BRICS dan Dedolarisasi Makin Ramai, Gimana Potensi Emas?

BRICS dan Dedolarisasi Makin Ramai, Gimana Potensi Emas?

Emas. (Dok. Pixabay)

Gaungan dedolarisasi semakin menguat terutama setelah BRICS mengambil manuver untuk menjauhkan dominasi dolar Amerika Serikat (AS) di dunia. BRICS merupakan aliansi yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.

Kehadiran lembaga bantuan perbankan aliansi itu, Bank Pembangunan Baru (NPB), bertugas meningkatkan penggalangan dana dan pinjaman mata uang lokalnya. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko dampak fluktuasi valuta asing kepada langkah dedolarisasi.

Aliansi ini pun semakin ‘panas’ ketika beberapa negara timur tengah, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Iran dan Ethiopia ikut tergabung di dalamnya. Bersama-sama mereka pun sepakat untuk mengurangi ketergantungan pada dolar negeri paman sam ini.

Manuver ini disinyalir https://totogaming.site/ akan berpengaruh pada beberapa aset investasi yang saat ini menjadi jagoan para investor, yaitu emas. Seperti diketahui, korelasi atau hubungan emas dan dolar AS sering kali terbalik. Saat nilai dolar AS melemah, harga emas justru meningkat. Begitupun sebaliknya.

Apalagi, dedolarisasi sejatinya diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Artinya, jika kondisi ini terus berlanjut, maka permintaan dolar AS tentunya akan berkurang. Hukum ekonomi pun bekerja, jika permintaan semakin sedikit maka nilai dolar AS akan semakin melemah.

Sehingga tidak heran jika emas saat ini semakin diincar banyak pihak dan menguatkan harga emas dunia. Termasuk oleh bank sentral di dunia.

Buktinya, pada akhir tahun lalu, bank sentral di dunia terus menumpuk cadangan emasnya. Pembelian emas bank sentral di dunia mencapai 44 ton pada November 2023, naik dibandingkan pada Oktober yang mencapai 42 ton.

Pembelian bank sentral pada periode November 2023 masih didominasi oleh bank-bank yang menjadi pembeli tetap sepanjang tahun ini. Pembeli utama semuanya berasal dari pasar negara berkembang. Bank Sentral Turki menambahkan emas terbanyak pada bulan ini 25 ton, diikuti oleh Bank Nasional Polandia dan Bank Rakyat China.

Analis Pasar Uang, Ariston Tjendra pun mengakui mata uang Amerika Serikat memang diandalkan dalam perdagangan dunia, sehingga ketergantungan berbagai negara terhadap dolar AS sangat besar.

“Berdasarkan data Bank for International Settlement, dollar AS mendominasi sekitar 88% dari transaksi mata uang asing (foreign exchange/forex) global,” kata Ariston kepada CNBC Indonesia, Selasa (16/01/2024).

Ia juga menuturkan, fluktuasi dolar AS ke depan tetap akan berpengaruh pada aset ‘favorit’ investor dunia seperti emas. Ariston mengatakan, kebijakan bank sentral AS, The Fed, mempengaruhi kekuatan mata uangnya yang kemudian berdampak pada harga emas. Apalagi harga emas dunia masih dinilai dalam dollar AS. Alhasil, saat dollar AS melemah, harga emas menguat dan sebaliknya.

Harga emas juga sering terpengaruh oleh statusnya sebagai aset yang aman. Bila kekhawatiran pasar muncul terhadap kondisi global, pelaku pasar mulai beralih ke emas yang mendorong kenaikan harga emas global.

Sekadar informasi, pada awal tahun ini harga emas global bertahan di atas level US$ 2000. Hal ini menyiratkan bahwa pelaku pasar masih mengkhawatirkan kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian, apalagi ditambah dengan ketegangan geopolitik atau perang yang masih berlangsung.

“Harga emas dalam negeri biasanya menggunakan harga emas global sebagai patokan. Jadi kalau harga emas global naik, harga emas dalam negeri juga ikut naik,” rinci Ariston.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*