Dear Buruh Generasi Sandwich Zaman Now, Yakin Bisa Mapan?

Buruh melanjutkan aksi Hari Buruh Internasional di Istora Senayan, Jakarta.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa mayoritas buruh di Indonesia adalah generasi sandwich atau orang yang harus menafkahi diri sendiri, generasi atas (orangtua) hingga generasi bawahnya (anak).

“Saya belum menemukan berapa angka yang pasti, tapi kita pastikan mayoritas angkatan buruh kita itu adalah generasi sandwich. Artinya apa? ketika dia bekerja dia harus menghidupi generasi atasnya, mulai dari kakek, nenek, ayah, ibu,” katanya dalam Puncak Perayaan Hari Buruh Internasional, disiarkan kanal YouTube Kementerian Ketenagakerjaan, dikutip┬ádetik┬áSelasa (2/5/2023).

Satu hal yang dikhawatirkan adalah ketika seorang buruh terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau menjadi pengangguran, maka yang jatuh miskin bukan hanya dirinya melainkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Dengan pengeluaran yang cukup besar, pendapatan yang tergolong pas-pasan, dan rendahnya literasi finansial, akan sangat sulit bagi buruh generasi sandwich menggapai kemerdekaan finansial.

Lantas seperti apakah solusi manajemen keuangan bagi buruh dengan penghasilan pas-pasan dan berstatus generasi sandwich? Berikut ulasannya.

Prioritaskan untuk tambah penghasilan

Penghasilan tentunya tidak hanya terpaut dari gaji bulanan saja. Sumber penghasilan bisa didapat dari mana saja, seperti dari kerja sampingan, bisnis sampingan, maupun dari investasi.

Akan tetapi jumlah tabungan juga masih terlalu sedikit, dan seringkali terpakai untuk kebutuhan jangka pendek maupun darurat, maka kerja sampingan atau mencari pekerjaan baru dengan gaji yang lebih baik adalah solusinya.

Guna memudahkan Anda mendapat pekerjaan baru atau mencari kerja sampingan, maka Anda pun perlu perlu memperbaharui ilmu dan keterampilan.

Manfaatkanlah waktu yang ada di luar jam kerja untuk belajar, agar Anda bisa mewujudkan hal ini secepatnya.

Dana darurat dengan jumlah yang lebih besar

Ketika terjadi PHK, maka penghasilan Anda sebagai pencari nafkah akan hilang begitu saja. Akan tetapi, pengeluaran rumah tangga akan tetap ada, begitu pula dengan cicilan utang bila ada.

Sangat penting untuk menyediakan dana darurat dengan jumlah yang lebih besar, sebut saja di atas enam kali pengeluaran bulanan untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan ini.

Anda bisa memulainya dengan menyisihkan uang sebesar 10% dari pemasukan setiap bulan, dan mengalokasikan seluruh atau setengah dari uang tunjangan hari raya (THR) untuk dana darurat.

Lindungi seluruh anggota keluarga dengan BPJS Kesehatan

Jika asuransi kesehatan dinilai sangat mahal, maka BPJS Kesehatan bisa menjadi solusi untuk melindungi keuangan keluarga di saat terjadi musibah sakit.

Tanpa adanya jaminan kesehatan, Anda akan merogoh kocek pribadi untuk berobat. Hal itu justru sangat berisiko lantaran dana darurat Anda bisa saja terkuras lantaran biaya berobat yang mahal.

Investasi setelah ada dana darurat dan jaminan kesehatan

Berinvestasilah di saat keuangan Anda sudah aman dalam artian sudah memiliki dana darurat dalam jumlah yang cukup, dan punya jaminan kesehatan untuk seluruh anggota keluarga.

Tanpa keamanan finansial yang baik, Anda bisa saja terpaksa menjual aset-aset investasi jika Anda terkena musibah.

Jika keamanan finansial sudah tercipta, fokuslah untuk berinvestasi untuk mewujudkan tujuan finansial jangka panjang terlebih dulu seperti dana pensiun atau dana pendidikan anak.

Edukasi seluruh anggota keluarga soal keuangan

Seluruh anggota keluarga tentu harus memiliki pemahaman yang baik seputar keuangan, lantaran mereka lah yang akan membantu Anda merdeka finansial di kemudian hari.

Dengan pemahaman keuangan yang baik, mereka akan mengerti dengan baik dukungan apa yang bisa mereka berikan terhadap si pencari nafkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*