Harga Batu Bara Ambruk 56%, Jatuh ke Level Terendah 1,5 Tahun

Batu Bara Black Diamond (Dok: Black Diamond Resources)

Harga batu bara kian ambruk. Pada Pada perdagangan Kamis (4/5/2023), harga batu bara kontrak Juni di pasar ICE Newcastle ditutup di posisi US$ 170 per ton. Harganya ambruk 6,75%.

Harga tersebut adalah yang terendah sejak 11 Januari 2022 (US$ 168,1 per ton) atau dalam 16 bulan terakhir atau hampir 1,5 tahun.

Pelemahan kemarin juga memperpanjang tren negatif batu bara yang juga ambruk pada hari sebelumnya, Dalam dua hari terakhir, harga batu bara sudah jatuh 10,7%.

Jatuhnya harga batu bara lebih dalam lagi jika melihat pergerakan sepanjang tahun ini.

Sejak awal 2023, harga batu bara sudah ambruk 56,4%. Bila kita membandingkan dengan harga tertingginya pada 5 September 2022 ((US$ 463,75/ton) maka batu bara sudah ambruk 63%.

Harga batu bara saat ini sangat bertolak belakang dengan setahun lalu di mana harga pasir hitam melonjak akibat pernag dan krisis energi.

Batu bara sempat bertahan lama di level US$ 400 sebelum turun pada awal tahun dan kini harganya kembali ke era sebelum perang dan mendekati pandemi Covid.

Harga batu bara sebenarnya sempat melonjak dua pekan lalu setelah gelombang panas menghantam kawasan Asia.

Namun, kenaikan itu hanya sesaat dan batu bara kini kembali melemah karena sejumlah faktor.  Di antaranya adalah kenaikan produksi di China dan India, ancaman resesi di Amerika Serikat (AS), serta ambruknya harga sumber energi lain.

Produksi batu bara China dan India diperkirakan melonjak tahun ini sehingga permintaan impor bisa ditekan.

Produksi batu bara India menembus 893,08 juta ton pada tahun fiskal April 2022/Maret 2023. Produksi melonjak 23% dalam lima tahun terakhir.

India juga mengumumkan ambisi baru yakni produksi batu bara hingga 1,012 miliar ton untuk tahun fiskal 2023/2024.

Kabar terbaru menyebutkan jika India tidak akan lagi membangun pembangkit listrik batu bara yang baru.

Dilansir dari The Business Standard melaporkan draft baru dari National Electricity Policy (NEP) menunjukkan pemerintah India berencana tidak akan lagi membangun pembangkit listrik batu bara yang baru, di luar yang sudah masuk dalam proposal sebelumnya.

Langkah ini diambil untuk mendorong perkembangan energi hijau yang lebih ramah lingkungan.

India saat ini masih menggantungkan sekitar 60% produksi listriknya dari pembangkit batu bara.

Produksi batu bara China juga meningkat drastis mencatat rekor pada Maret dengan jumlah 417,22 juta ton, Jumlah itu setara dengan 13,46 juta ton per hari yang merupakan rekor tertinggi.

Produksi batu bara China menembus 1,15 miliar ton pada Januari-Maret 2023, atau meningkat 5,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Harga batu bara juga anjlok mengikuti harga sumber energi lain seperti minyak mentah dan gas.

Harga sumber energi mulai dari minyak mentah hingga gas jeblok setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,0-5,25% pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (4/5/2023).

Kenaikan suku bunga terjadi di tengah krisis perbankan AS serta kekhawatiran terjadinya resesi.  Hal itu dikhawatirkan membuat ekonomi AS terus melambat yang pada akhirnya berdampak kepada ekonomi global.

Jika ekonomi global melambat maka permintaan akan sumber energi akan berkurang.

Pada Jumat pagi pukul 05:48 WIB, harga minyak jenis brent turun 0,21% pada hari ini sementara WT anjlok 0,52%. Harga gas Eropa TTF juga jatuh 3% pada hari ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*