Hati-Hati Pak Jokowi, Bisnis Andalan RI Ini Mulai Seret

Pan Brothers/Dok SPN.or.id

Ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,03% (year on year/yoy) pada kuartal I-2023. Namun, pertumbuhan yang relatif tinggi ini malah dibayangi oleh ambruknya sektor-sektor andalan Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2023 lebih tinggi dibandingkan kuartal IV-2022 yang tercatat 5,01% (yoy).  Dilihat dari lapangan usaha, sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar.

Dari 16 lapangan usaha yang https://daftar-dwslot88.com/ menjadi basis perhitungan, sembilan di antaranya memang mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan kuartal IV-2023 atau kuartal I-2022.

Namun, lapangan usaha yang menjadi andalan ataupun menyumbang tenaga kerja dalam jumlah besar justru terus melambat.  Di antaranya adalah pertanian, industri pengolahan,  hingga perdagangan eceran.

Lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya tumbuh 0,34% (yoy) pada Januari-Maret 2023. Pertumbuhan ini jauh lebih rendah dibandingkan pada kuartal IV-2022 (4,51%).

Pertumbuhan pada kuartal I-2023 bahkan menjadi yang terendah sejak kuartal II-2020 atau periode awal pandemi Covid-19.

Pertumbuhan lapangan usaha pertanian bahkan jauh di bawah rata-rata sebelum pandemi yakni 3,6%.

Terus melambatnya sektor pertanian ini harus segera diantisipasi. Pasalnya. Sektor pertanian merupakan lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja.

Sektor tersebut menghidupi lebih dari 40,69 juta warga Indonesia atau 30% dari kaum pekerja di Indonesia.

Industri pengolahan juga terus melambat dan hanya tumbuh 4,43% pada Januari-Maret tahun ini. Jauh di bawah kuartal IV-2022 yang tercatat 5,64%.

Pelemahan sektor manufaktur tentu saja harus menjadi catatan. Pasalnya, sektor ini sangat penting untuk menentukan masa depan Indonesia menjadi negara maju atau tidak.

Sektor manufaktur adalah kunci jika Indonesia ingin meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita ataupun nilai tambah ekspor.
Manufaktur juga menyumbang banyak tenaga kerja.

Industri pengolahan menyerap tenaga kerja sebanyak 18,83 juta atau 13,58%.

BPS mencatat pertumbuhan industri pengolahan non-migas hanya mencapai 4,67% (yoy) pada kuartal I-2023 atau terendah dalam setahun terakhir.

Dari 15 sub-sektor industri, hanya empat kelompok industri yang mampu tumbuh di atas 5%.

Di antaranya adalah makanan dan minuman, industri alat angkutan, industri barang logam dasar, dan industri barang Logam; komputer, barang elektronik, optik; dan peralatan listrik.

Tujuh sub-sektor bahkan mengalami kontraksi yakni industri pengolahan tembakau, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya, industri kimia, farmasi dan obat tradisional, .industri barang galian bukan logam,serta industri furniture

Lapangan usaha lain yang anjlok pada kuartal I-2023 adalah perdagangan besar dan eceran,reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor.

Sektor tersebut hanya tumbuh 4,89% pada Januari-Maret 2023, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya (6,55%).

BPS mencatat dua lapangan usaha mampu mencatatkan pertumbuhan double digit yakni transportasi & pergudangan (15,93%) dan penyedia akomodasi & makan minum (11,55%).

Lapangan usaha lain yang tumbuh tinggi adalah informasi dan komunikasi (7,19%).

Pertumbuhan tiga sektor ini ditopang oleh peningkatan mobilitas masyarakat, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, serta terselenggaranya beberapa acara nasional dan internasional.

Ekonom BRI Suryaputra Wijaksana menjelaskan kinerja sektoral yang melambat pada hampir seluruh sektor juga tercermin dari penurunan pertumbuhan kredit perbankan pada Januari-Maret 2023.

“Hal tersebut mengindikasikan bahwa terjadi pelemahan aktivitas bisnis pada hampir seluruh sektor, sehingga mendorong penurunan permintaan kredit perbankan,” tutur Suryaputra dalam reportnya Economic Update: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Q1-2023

Perlambatan disebabkan banyak faktor, termasuk dampak kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Seperti diketahui, BI mengerek suku bunga hingga 225 basis points (bps) sejak Agustus 2022 lalu menjadi 5,75% seperti saat ini.

“Ini menyebabkan financing cost meningkat bagi dunia usaha. Lebih jauh, likuiditas perbankan yang menurun, di mana tercermin dari perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK),” imbuhnya.

Data BI menunjukkan pertumbuhan kredit per Maret 2023 melandai menjadi 9,93% (yoy) dari 10,53% (yoy) pada bulan sebelumnya. DPK juga melemah menjadi 7% (yoy) pada Maret 2023 dari 8,18% (yoy) pada Februari 2023.

Suryaputra mengingatkan pertumbuhan sektor primer diperkirakan akan melambat ke depan.

Sebaliknya, sektor sekunder diharapkan diperkirakan masih cukup potensial ke depan sejalan dengan pulihnya ekonomi dan melandainya pandemi.

Termasuk dalam sektor primer adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan, serta pertambangan dan penggalian. Sementara itu, sektor primer termasuk bangunan, industri pengolahan, serta listrik, gas, dan air bersih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*