IHSG Jumat Bisa Rebound, Joe Biden Bawa Kabar Baik

Layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (10/5/2023). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Kinerja pasar modal domestik pekan ini kembali menunjukkan koreksi beruntun, setelah dua pekan sebelumnya  juga berada di zona merah. Ketidakpastian global membuat investor khawatir terdampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Namun, penurunanIHSG pekan ini dapat menjadi sentimen positif untuk perdagangan besok Jumat (18/5/2023). Hal tersebut didukung oleh optimisme JoeBiden dalam kemungkinan peningkatan plafon utang darinegosiasinya dengan Partai Republik di Kongres. Sentimen tersebut menjadi landasan Amerika Serikat tidak akan mengalami gagal bayar.

Selain itu, defisit neraca dagang Jepang yang melandai mendorong melesatnya bursa Asia Pasifik. Ditambah sentimen cumdate https://idpromeja138.com/ dividen jumbo Jumat besok turut menjadi isu positif. Namun, penurunan impor Jepang yang merupakan pasar ekspor Indonesia terbesar ke-3 menjadikan potensi perdagangan IHSG besok terkoreksi.

Sentimen positif utama datang dari Amerika Serikat terkait pernyataan Biden yang dikutip dari CNBC International setelah mengadakan pertemuan dan mendapatkan kesepakatan bahwa “Amerika tidak akan gagal bayar.”

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Kevin McCarthy selaku Ketua DPR AS dari Partai Republik, “Saya pikir pada akhirnya kami tidak akan mengalami default. Saya pikir kami akhirnya membuat presiden setuju untuk bernegosiasi,”

Kesepakatan lebih lanjut dari kedua belah pihak, “kemungkinan untuk mendapatkan kesepakatan pada akhir minggu,” kata McCarthy.

Sepanjang pekan ini, IHSG terkoreksi 0,67% ke level 6.637,32. Total penurunan indeks saham tanah air yang melemah selama hampir tiga pekan berturut-turut mencapai 3,65%.

Kali ini, pergerakan IHSG sepanjang Bulan Mei adalah konfirmasi istilah sell on may, mengingat awal bulan IHSG dibuka di level 6.915,72 hingga hari libur kenaikan Isa Almasih (18/5/2023) berada di level 6.663,11. Penurunan ini setara dengan 282,6 basis points (BPS).

Isu positif untuk perdagangan besok didukung oleh cum date dividen jumbo dari beberapa emiten. PT Total Bangun Persada (TOTL) membagikan dividen Rp 100 per saham atau dividend yield (DY)per hari ini 23,8%, PT ABM Investama Tbk (ABMM) membagikan dividen Rp 400 per saham atau DY 11,9%, dividen PT Merck Tbk (MERK) Rp 320 per saham atau DY 6,4%, dan PT Hasnur International Shipping Tbk (HAIS) membagikan dividen Rp 13,25 per saham atau DY 5,7%.

Selain itu, pasar Asia akan diramaikan dengan sentimen pengumuman inflasi Jepang. Melansir Trading Economics, perkiraan inflasi Jepang pada April sebesar 3,2% tidak mengalami perubahan dari bulan sebelumnya.

Hari ini, Jepang telah mengumumkan posisi neraca perdagangannya yang menunjukkan defisit JPY 432,4 miliar. Neraca dagang Jepang telah mengalami defisit selama 21 bulan berturut-turut. Namun, defisit ini merupakan yang terkecil sejak Oktober 2021.

Sontak, Indeks Nikkei 225 Jepang melesat 1,37% ke posisi 30.506. Beberapa saham Jepang bersinar pada pembukaan perdagangan hari ini karena pertumbuhan semikonduktor.

Namun, penurunan defisit disebabkan oleh impor Jepang yang mengalami penurunan 2,3% secara tahunan (yoy) menjadi JPY 8.720,8 niliar pada April 2023. Penurunan impor Jepang lebih besar dari prediksi konsensus 0,3%. Nilai tersebut juga berbalik dari pertumbuhan 7,3% pada bulan Maret.

Ini adalah penurunan impor pertama sejak Januari 2021, khususnya disebabkan impor bahan bakar mineral yang turun 17,7%. Melandainya impor Jepang bisa menjadi sinyal bahaya bagi Indonesia.

Dengan melemahnya impor, mengindikasikan permintaan Jepang atas barang dari luar negeri, termasuk Indonesia berkurang. Sebagai informasi, Jepang merupakan pasar ekspor terbesar produk Indonesia setelah China dan Amerika Serikat.

Titik terang dari sentimen gagal bayar utang AS, pembagian dividen jumbo, defisit neraca dagang Jepang yang menyusut, dan IHSG yang sudah cukup terkoreksi berat berpotensi mendorong IHSG rebound kembali ke zona hijau pada perdagangan Jumat dan pekan depan.

Namun, penurunan impor Jepang merupakan faktor yang akan menjadi risiko sentimen negatif, khususnya bagi emiten eksportir bahan bakar mineral.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*