Menteng Kawasan Elite Tapi Berjejer ‘Rumah Hantu’, Kok Bisa?

Salah satu rumah kosong terbengkalai di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Kawasan Menteng, sebuah lokasi yang tenang, tak begitu padat, dan dipenuhi pohon rindang membuat kawasan ini menjadi terlihat lebih asri dan sejuk dibandingkan wilayah Jakarta lainnya. Rumah-rumah di kawasan ini juga digadang-gadang menjadi wilayah dengan harga termahal di Jakarta.

Meski demikian, berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, ada beberapa rumah di kawasan ini yang terlihat tidak terurus bahkan nampak angker sejak mata memandang ke arah bangunan tersebut.

Salah satunya sebuah bangunan rumah setengah jadi di Jalan Lembang yang dibiarkan begitu saja. Proyek pembangunan rumah ini terlihat mangkrak, dan sengaja dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Rumah ini berlokasi di tepi jalan raya, dekat ke arah jalan menuju Situ Lembang.

Nampak batu bata untuk pondasi bangunan yang tidak malu-malu masih terbuka, belum diplester oleh semen. Atap rumah yang setengah roboh karena tak diurus, genangan air keruh di dalam rumah akibat tak adanya atap yang melindungi rumah ini, pohon dan semak belukar yang tumbuh liar di sekeliling rumah. Bahkan rumah kosong ini seperti dijadikan tempat pembuangan sampah, karena ditemui tumpukan sampah di pekarangan depan rumah kosong ini.

Mursin, seorang pedagang sayur keliling di kawasan Menteng membenarkan bahwa rumah kosong mangkrak tersebut memang sudah lama ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.

“Itu malah di Jalan Lembang ada rumah dibangun tapi gak dijadiin (bangunannya mangkrak). Udah dibiarin begitu saja, dibiarin gak jadi (rumahnya) terus kosong aja begitu,” kata Mursin kepada CNBC Indonesia, Kamis (4/5/2023).

Mursin menyebut bangunan mangkrak tersebut sudah terbengkalai lebih dari 10 tahun.

“Kakek tahu itu kosongnya udah lama, ada lebih dari 10 tahun kali ya, soalnya kakek tahun 2015 saja itu sudah ditinggal. Kakek jualan sayur di sini sudah dari tahun 1980,” ujar Mursin.

Tak hanya Mursin, petugas kebersihan yang tak berkenan menyebutkan namanya juga membenarkan perihal rumah mangkrak tersebut. Katanya, rumah atau bangunan mangkrak tersebut memang sudah lama kosong dan dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya.

“Yang deket pos? Udah lama sih itu kosongnya. Dulu kan ada yang mau nempatin, udah dibangun lagi, tapi gak tau deh sekarang ditinggalin begitu saja,” ujar petugas kebersihan inisial B.

Kendati demikian, Mursin menepis perihal angkernya bangunan tersebut. Menurut dia, meskipun sudah kosong lama, tapi sejauh ini belum ada cerita-cerita mistis yang menyeramkan terkait dengan rumah tersebut.

“Hantu di sini mah gak serem begitu. Kalau tempat serem baru. Ini mah gak serem. Kalau di Taman Suropati mungkin bisa jadi serem karena di sana pohonnya gede-gede. Di sini mah engga lah, kakek sendiri gak pernah alamin, (ataupun) ibu-ibu yang suka beli sayur di kakek gak ada tuh pernah yang cerita soal setan atau hantu di sekitar sini. Gak ada lah pokoknya. Kalau pohonnya gede-gede baru tuh barangkali ada,” tukas Mursin.

Mursin menekankan kalau rumah-rumah di kawasan Menteng terbilang aman meskipun banyak rumah-rumah kosong yang ditinggal oleh pemiliknya.

“Gak sih kalau itu mah. Kalau dari sini kan aman ini mah, masih di pinggiran begini. Semuanya kan juga ada pos-posnya,” ujarnya.

Eko, seorang petugas kebersihan jalur di sekitar Jalan Lembang juga menuturkan hal senada, “Gak ada sih (cerita serem atau hantu). Kalau dari luar ya kayak rumah kosong pada umumnya. Gak tau deh kalau masuk, mungkin serem kali. Saya mah kan tukang bersih jalur aja,” ucapnya.

Tidak hanya di kawasan Situ Lembang, bergeser ke Jalan Diponegoro juga terdapat satu gedung tidak terurus bahkan terlihat angker. Di dalamnya tumbuh semak belukar.

Bergeser ke pertigaan Jalan Dipenogoro dan Teuku Cik Ditiro, ada sebuah bidang tanah yang tak terurus. Luas tanahnya sekitar 10×15 meter dan berada persis di samping kantor Majelis Pimpinan Nasional (MPN) Pemuda Pancasila. Di dalamnya terlihat hanya ada sebuah bangunan tua dengan dua lantai.

Selain itu, ada sebuah bangunan mungil terbengkalai dengan lahan yang cukup luas di Jalan Pasuruan. Rumah ini tak terurus dengan banyaknya semak belukar serta pagar berkarat.

Soal banyaknya properti terbengkalai di kawasan elite Menteng dibenarkan Ketua umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Lukas Bong. Menurut Lukas orang yang memiliki aset di Menteng adalah orang yang sangat mampu secara finansial.

Maka dengan meninggalkan dan membiarkan terbengkalai hal itu lumrah dilakukan. Bisa jadi sang pemilik memiliki aset lain misalnya di luar negeri.

“Iya sebenarnya sih kalau kita lihat orang yang mampu beli rumah di Menteng itu sudah pasti dia punya aset juga di luar (negeri), atau dia juga mungkin punya aset di tempat lain,” katanya saat bercerita kepada CNBC Indonesia.

Namun dengan meninggalkan bukan penuh meninggalkan, pemilik akan menjaga itu sebagai sebuah aset investasi. Harga tanah di Menteng yang naik setiap tahun dan kesan mewah daerah tersebut menjadi alasannya.

“Jadi pada masa-masa pandemi mereka itu lebih banyak mungkin entah itu tinggal di luar negeri atau di tempat mereka yang lain, jadi daerah situ memang cenderung agak ditinggalin karena mereka merasa lebih nyaman di luar,” ujarnya.

Kawasan Menteng menjadi perbincangan setelah disebut sebagai kawasan elite dengan harga tanah tertinggi di Indonesia. Ini menyebabkan harga properti di Menteng sangat fantastis. Bahkan harganya terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

“Harga properti di Menteng 2010 itu Rp 20 juta/meter persegi, sekarang Rp 100 juta, berarti naik 5 kali lipat dalam 13 tahun. Singapura dari 10 tahun lalu sampai sekarang harganya sama aja segitu, kan sudah mentok. Kalau Indonesia gimana stagnan? Orang pertumbuhan 5% terus-terusan,” ungkap pemilik PT Panangian Simanungkalit & Associates, Panangian Simanungkalit kepada CNBC Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*