Pajak Hiburan di DKI Jakarta Naik, Karaoke Sepi ‘Bak Kuburan’

Pajak Hiburan di DKI Jakarta Naik, Karaoke Sepi ‘Bak Kuburan’

Suasana tempat hiburan karaoke Inul Vizta di Kawasan Lebak Bulus, Jakarta, Selasa, (16/1/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Sejumlah tempat karaoke di Jakarta tampak sepi jelangĀ pemerintah menerapkanĀ tarif pajak hiburan sebesarĀ 40%. Para pengelola tempat hiburan tersebut khawatir kenaikan tarif pajak ini akan membuat pelanggan semakin enggan datang ke tempatnya.

CNBC Indonesia mengunjungi sejumlah tempat karaoke yang ada di Jakarta Selatan pada Rabu (17/1/2024). Tempat pertama yang didatangi adalah NAV Karaoke Keluarga di Blok M Square, Jakarta Selatan pada pukul 15.30 WIB.

Ketika sampai di tempat karaoke yang ada di lantai 5 pusat perbelanjaan itu, 2 pegawai berbaju oranye nampak sedang menunggu di kasir. Kursi tunggu tamu yang ada di dekat kasir kosong tak ada pelanggan. Meski demikian, dari dalam ruang karaoke terdengar suara sejumlah pelanggan sedang bernyanyi.

“Kondisinya ya bisa https://judol-terpercaya.store/ dilihat sendiri aja, paling cuma beberapa room ini,” kata supervisor NAV Karaoke Blok M Square bernama Miko saat ditemui di lokasi.

Miko mengatakan kondisi seperti ini sebenarnya sudah terjadi cukup lama akibat pandemi Covid-19. Jumlah pengunjung menyusut hingga 50% dari sebelumnya. Menurut dia, jumlah kunjungan baru akan naik ketika akhir pekan.

Setali tiga uang dengan kondisi Inul Vizta di Jalan Melawai Raya, Jakarta Selatan saat dikunjungi di hari yang sama. Tempat karaoke milik penyanyi dangdut Inul Daratista itu nampak sepi dari pengunjung. Hanya seorang kasir yang terlihat di ruang tunggu yang kosong melompong, meskipun suara pelanggan tengah bernyanyi dari bagian dalam bisa terdengar. Sementara itu, kondisi bar yang ada di ruangan itu nampak sudah lama tak dipakai.

Di tempat karaoke Roppongi Papa keadaannya tak jauh berbeda. Tempat karaoke yang berada di Jalan Mahakam, Kebayoran Baru itu nampak sepi ketika dikunjungi pukul 16.39 WIB. Pengelola bernama Dwi mengatakan kenaikan tarif pajak jelas akan berimbas pada jumlah pengunjung. “Pasti ada pengaruh, pengaruh dari jumlah kedatangan tamu,” kata dia.

Sebelumnya, tarif pajak tempat hiburan seperti tempat karaoke di Jakarta naik menjadi 40%. Kenaikan tarif pajak itu merupakan imbas dari terbitnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (HKPD).

UU tersebut mengatur tentang besaran pajak barang dan jasa tertentu (PBJT) untuk jasa hiburan seperti diskotik, karaoke, kelab malam, bar, dan mandi uap/spa paling rendah 40% dan paling tinggi 75%.

Dengan dasar UU tersebut, Pemerintah DKI Jakarta kemudian mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Di dalam aturan ini, Pemda DKI menetapkan tarif pajak sejumlah tempat hiburan, termasuk karaoke sebesar 40%.

Kementerian Keuangan menyatakan tujuan pemerintah menetapkan pajak hiburan minimal 40% adalah untuk mendorong kemandirian fiskal daerah. Kemenkeu menilai selama ini masih banyak daerah yang bergantung ke pemerintah pusat.

Selain itu, Direktur Pajak Daerah dan Retribusi Daerah DJPK Kemenkeu Lydia Kurniawati Christyana mengatakan industri hiburan juga sudah pulih dari dampak pandemi Covid-19. Dia mengatakan total pendapatan daerah dari pajak hiburan sebesar Rp 2,2 triliun pada 2023. Nilai ini hampir setara dengan realisasi pada 2019 atau sebelum Covid-19 sebesar Rp 2,4 triliun.

“2023 itu sudah Rp 2,2 triliun, jadi sudah bangkit,” kata Lydia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*