Palagan Ganjar, Prabowo, Anies di Jateng Kandang Banteng

Prabowo Subianto dan Anies Baswedan bakal kesulitan meraih suara di Jawa Tengah yang notabene basis suara Ganjar Pranowo serta PDIP

 

Jakarta, CNN Indonesia — Jawa Tengah adalah lumbung suara terbesar ketiga di Indonesia setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. KPU telah menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT)¬†Pemilu 2024 di Jawa Tengah sebanyak 28.289.413 orang.
Dalam gelaran Pemilu 2024 nanti, Jateng dibagi dalam 10 daerah pemilihan (Dapil) dengan memperebutkan total kursi DPR RI sebanyak 77 kursi.

Secara konfigurasi kekuatan politik, Jawa Tengah identik dengan julukan ‘Kandang Banteng’. Julukan ini dikaitkan dengan kekuatan massa pendukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang sangat dominan di Jateng.

Bila ditilik ke belakang, PDIP selalu memenangkan Pemilu legislatif di Jawa Tengah pasca Reformasi 1998. Hal ini berbanding terbalik ketika PDI, nama terdahulu PDIP, berada di 32 tahun kuasa rezim otoriter Soeharto yang tak berkutik sepanjang Pemilu masa Orde Baru.

Ketika Pemilu 1999 digelar, PDIP berhasil ‘menggulingkan’ dominasi Golkar yang kerap menang Pemilu di Jateng saat rezim Orba. Pada Pemilu 1999 lalu, PDIP meraih 42,6 persen suara di Jawa Tengah dan disusul oleh PKB di tempat kedua dengan 17,2 persen suara.

Kemudian pada Pemilu 2004, 2009, 2014 hingga 2019, PDIP tetap memegang dominasi sebagai parpol nomor wahid di Jawa Tengah.

Di Pemilu 2019 Jateng, PDIP hanya menempati posisi peringkat kedua di kawasan Cilacap dan Batang lantaran dikuasai oleh Golkar di peringkat pertama. Banjarnegara dikuasai Demokrat. Kemudian di Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan dan Wonosobo yang dikuasai PKB dan Rembang dikuasai PPP.

PDIP berhasil ‘memerahkan’ wilayah Jepara, Kudus, Kebumen, Kendal dan Tegal yang sempat didominasi oleh Gerindra, Golkar dan PKB yang sempat diperoleh di Pemilu 2014.

Tak cuma pemilu legislatif, kontestasi Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Jateng juga mengukuhkan pasangan calon yang diusung PDIP selalu mendominasi kemenangan sejak pertama penyelenggaraan pada 2008 lalu.

CNN Indonesia/ Agder Maulana
SBY sempat menang, Jokowi ‘merahkan’ lagi
Meski PDIP sebagai kekuatan dominan di Jateng, namun tak melulu kandidat capres-cawapres yang didukung PDIP selalu menang sejak pemilihan presiden secara langsung dilaksanakan sejak 2004.

Mega-Hasyim sempat menang di Jawa Tengah pada putaran pertama dengan 31,81 persen suara. Posisi kedua diikuti oleh SBY-JK sebesar 28,90 persen.

Namun, Mega-Hasyim harus keok di putaran kedua Pilpres yang diselenggarakan pada September. Mega-Hasyim hanya mendapatkan 48,33 persen, sementara rivalnya SBY-JK berhasil menang lantaran memperoleh suara sebesar 51,67 persen.

Kondisi yang sama juga terjadi di Pilpres 2009. Megawati, yang saat itu berpasangan dengan Prabowo Subianto, kembali kalah di Jawa Tengah dari pasangan SBY-Boediono.

Selang lima tahun kemudian, PDIP mengusun Jokowi maju Pilpres 2014 berpasangan dengan Jusuf Kalla. Jokowi-JK kala itu melawan Prabowo yang menggandeng Hatta Rajasa.

Jokowi-JK berhasil ‘memerahkan’ Jateng di Pilpres 2014. Di Jawa Tengah, suara Jokowi-JK unggul telak sebesar 66,65 persen, sedangkan Prabowo-Hatta hanya 33,35 persen.

Lima tahun setelahnya atau 2019, Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin sebagai petahana. Ia kembali menghadapi Prabowo yang menggandeng Sandiaga Uno. Lagi-lagi, Jokowi-Maruf unggul telak sebesar 77,26 persen atau 16,7 juta suara dengan kemenangan di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Misi Para Timses Capres 2024
Sejumlah lembaga survei baru-baru ini mulai memetakan kekuatan tiga bakal capres di Jawa Tengah. Lembaga survei seperti LSI Denny JA hingga Litbang Kompas menempatkan elektabilitas Ganjar unggul dari kandidat capres lainnya dalam hasil survei khusus di Jateng.

LSI Denny JA misalnya menempatkan elektabilitas Ganjar di angka 55,2 persen. Sementara, Prabowo menempati urutan kedua dengan 20,4 persen dan Anies 4,3 persen. Masih ada 20,1 persen yang belum memutuskan

Sementara survei Litbang Kompas menempatkan Ganjar di Jawa Tengah dengan persentase paling tinggi yakni mencapai 62 persen.

Potensi meraup suara di Jateng membuat tiga capres dan para timsesnya akan siap habis-habisan. Kepala Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP sekaligus Ketua DPW PDIP Jateng Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul misalnya percaya diri Ganjar akan menang di Jateng.

Guna mempertahankan kemenangan itu, ia akan menjalankan strategi catenaccio. Catenaccio merujuk pada istilah taktis dalam permainan sepak bola. Strategi itu menitikberatkan pada kekuatan pertahanan.

“Kami akan mempertahankan kemenangan kami dengan sistem catenaccio,” kata Pacul di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 13 September 2023 lalu.

Bahkan, ia telah menyiapkan empat lapis ‘pasukan grendel’ untuk mengamankan Jawa Tengah di Pilpres 2024. Pasukan ini memiliki fungsinya masing-masing.

“Jadi kami bikin sistem Grendel. Grendel utama kami adalah pasukan bintang-bintang. Grendel kedua kami punya pasukan gorong-gorong, gerendel ketiga kita punya pasukan burung hantu, Grendel keempat itu adalah Grendel happy-happy,” ujar Pacul.

Pacul tak menjelaskan secara detail empat lapis pasukan yang dimaksud. Ia turut mempertanyakan capres lainnya apakah mampu untuk menembus sistem pertahanan PDIP tersebut.

“Pertanyaannya, apakah Anies dan Pak Imin bisa menembus itu. Ya makanya kita lihat lapangan nanti. Tapi kami sudah deploy pasukan. Masukan sudah kita deploy semua,” imbuh Pacul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*