Sell in May Sudah Go Away, IHSG Bersiap Hijau Lagi

Pengunjung melintas dan mengamati pergerakan layar elektronik di di Jakarta, Selasa (2/1/2018).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,46% menjadi 6.844,02 pada penutupan sesi II perdagangan Kamis (4/5/23).

Sebanyak 282 saham menguat, 239 saham melemah, sementara 212 lainnya mendatar. Perdagangan menunjukkannilaitransaksimencapai sekitarRp10,74 triliundengan melibatkan16,74miliar sahamyang berpindah tangan sebanyak 1,3 juta kali.

Hari ini IHSG sempat dibuka di zona merah, namun setengah jam kemudian IHSG konsisten diperdagangkan di wilayah positif hingga penutupan perdagangan. Dalam lima hari perdagangan IHSG terkoreksi 0,96%. Sementara itu, secara year to date (ytd) indeks membukukan koreksi sebesar 0,10%.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) via Refinitiv seluruh sektor menguat dengan sektor Utilitas dan Teknologi memimpin penguatan masing-masing sebesar 0,90%.

Investor cenderung kecewa dengan The Fed karena mereka belum mengisyaratkan akan segera melunak dengan memangkas suku bunga. Namun,ChairmanThe Fed, Jerome Powell mengisyaratkan akan mengakhiri kenaikan suku bunga.

Sebagai catatan, The Fed telah menaikkan suku bunga sebanyak 10 kali sejak Maret tahun lalu setelah inflasi AS melambung. Suku bunga saat ini adalah yang tertinggi sejak 2006 atau 12 tahun terakhir.

Di lain sisi, krisis perbankan di AS yang kembali muncul juga mempengaruhi selera investasi pelaku pasar, meski kinerja perbankan di RI cukup baik.

Selain itu, investor juga cenderung wait and see menanti rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2023 yang akan dirilis pada hari ini.

Proyeksi ekonom yang dihimpun Tradingeconomics menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan di periode tersebut akan mencapai 5,00%.

Menurut Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2023 dapat tumbuh di kisaran 5% hingga 5,3%.

“Untuk kuartal I-2023 pertumbuhannya cukup bagus. Setidaknya bisa tumbuh 5%, meskipun kita tetap mewaspadai kinerja ekspor mengalami koreksi dari sisi level pertumbuhannya cukup tinggi,” tutur Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA, Selasa (14/3/2023 lalu).

Analisis Teknikal

IHSG dianalisis berdasarkan periode waktu harian (daily) menggunakan moving average (MA) dan pivot point Fibonacci untuk mencari resistance dan support terdekat.

Pada sesi I, IHSG memantul dari support kuat di 6.780 dan menembus level resistance terdekat berupa MA 20 (6.830).

Pergerakan IHSG juga dilihat dengan indikator teknikal lainnya, yakni Relative Strength Index (RSI) yang mengukur momentum.

RSI merupakan indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu.

Indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20. Dalam grafik harian, posisi RSI naik ke 52,33.

Sementara, dilihat dari indikator lainnya, Moving Average Convergence Divergence (MACD), grafik MACD bersiap memotong dari atas garis sinyal dengan kecenderungan bersiap death cross (pembalikan).

Hari ini, IHSG berpotensi menguji resistance terdekat berupa pivot 6.874. Apabila gagal menembus resistance tersebut, support terdekat untuk IHSG berada di level psikologis 6.800 dan 6.780.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*