TikTok Rajai Ecommerce RI Sampai Disorot Media Asing

A logo of a smartphone app TikTok is seen on a user post on a smartphone screen Monday, Sept. 28, 2020, in Tokyo. (AP Photo/Kiichiro Sato)

Kehebohan TikTok di RI bukan cuma sekadar melihat dan membagikan konten layaknya media sosial lainnya. Warga RI banyak yang menggunakan TikTok untuk berbelanja seperti e-commerce.

Tren ini bahkan sampai disorot media asing Rest of World. Menurut laporan media tersebut, bulan TikTok menjadi surga belanja bagi warga RI selama bulan Ramadan.

Melalui platform TikTok Shop, para penjual ramai melakukan live untuk menjajakan jualan mereka. Mulai dari kaftan, baju koko, hingga perlengkapan Lebaran lainnya.

Salah satunya Permata Hidayat, pedagang berusia 29 tahun yang kebagian ‘durian runtuh’ berkat TikTok. Ia berhasil menjual 1.500 kaftan setiap harinya selama bulan Ramadan. Angka itu naik 5 kali lipat dibandingkan penjualan normal.

Permata mengatakan, ia melakukan livestream selama 18 jam dalam sehari yang dibagi menjadi 3 sesi. Masing-masing 6 jam di pagi hari, 6 jam di siang-sore, serta 6 jam di malam hari.

“Kami baru mencoba jualan di TikTok pada November 2021. Kami tak menyangka platform ini sangat membantu bisnis kami hingga sekarang,” ia menuturkan.

Kehebohan TikTok di Indonesia berlangsung di tengah gempuran ancaman blokir dari negara-negara Barat yang digaungi Amerika Serikat. Indonesia sendiri merupakan pasar terbesar kedua bagi TikTok.

Secara keseluruhan di Asia Tenggara, TikTok mengumpulkan gross merchandise value (GMV) senilai US$ 4,4 miliar sepanjang 2022. Indonesia menjadi salah satu yang berkontribusi paling besar.

“Basis pengguna TikTok di Indonesia sekarang sangat besar dan mereka sangat pro-aktif. Pemerintah sepertinya enggan memblokir TikTok karena bisa saja tak punya akses kepada pemilih muda menjelang pemilu,” kata Associate Professor di Australian National University, Ross Tapsell.

Di Indonesia, jumlah download aplikasi TikTok Shop Seller Centre untuk para penjual tembus 5,5 juta. Angka itu jauh sekali di atas negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura.

Bagi para pedagang yang ingin berbisnis di TikTok, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya menyisipkan dokumen resmi seperti sertifikat bisnis teregistrasi.

Selain itu, pedagang juga diminta membayar 1% dari komisi mereka dan Rp 2.000 per item yang terjual. Jika semua sudah disepakati, maka pedagang bisa langsung menghubungkan akun mereka dengan TikTok Shop.

Indonesia menjadi salah satu negara yang pertama kali bisa mencicipi TikTok Shop di luar China, yakni sejak April 2021 lalu. Tak butuh waktu lama, platform itu langsung booming karena strategi pemasaran dengan diskon besar dan gratis ongkir.

Selain Permata, Jodi Rizaldi Akbar juga menjadi salah satu pedagang yang sukses berkat TikTok. Saat menjajakan dagangannya secara offline, ia mengaku cuma bisa menjual 100 barang per hari. Kini, penjualaannya tembus 10.000 item per minggu.

“Tahun ini benar-benar tahun TikTok,” ujarnya.

Ketika ditanya soal kemungkinan TikTok diblokir di Indonesia -jika mengikuti tren di Amerika Serikat-, para pedagang mengaku tak ambil pusing. Pasalnya, akan selalu ada tren baru yang bermunculan.

“Jika TikTok dilarang di Indonesia, tak jadi masalah. Kami masih bisa berjualan offline di Tanah Abang dan memasarkannya lebih luas di platform lain yang jadi tren,” kata Hidayat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*